Di Ngawi Pilkada Kalah Pamor Dengan Pilkades

Ada yang menarik dari tahun politik kali ini khususnya di Ngawi, Jawa Timur. Sama-sama di akhir tahun akan digelar dua gelaran kontestasi politik yakni Pilkada pada 9 Desember dan Pilkades 23 Desember. 


Jika dibandingkan eskalasenya dari sisi politik keberadaan Pilkades lebih seru dibanding Pilkada. Ada beberapa faktor yang membuat hangatnya situasi. Pertama Pilkades dipengaruhi ruang lingkup yang kecil demikian juga jumlah pemilih dibanding Pilkada. 

Kedua, antara calon dan pemilih bersentuhan langsung. Bahkan perilaku calon secara langsung dinilai oleh pemilih demikian juga keluarganya. Bahkan janji manis si calon pun bak tidak digubris lagi mengingat hubungan emosional antara pemilih dan calon sangat dekat.

Kantor berita RMOL Jatim mencoba menggali lebih jauh dinamika yang berkembang di desa menjelang Pilkades yang kurang dua bulan lagi tersebut. Input yang didapat, istilah demokrasi sesungguhnya memang ada di desa. Masyarakat selaku pemilih terlihat dan terkesan ada kasak-kusuk, isu-isu berseliweran. 

"Sekarang mau ngobrol dengan tetangga saja harus hati-hati mas. Melihat dulu siapa yang akan didukung dan kalau kita salah bicara apalagi temanya Pilkades takutnya bisa menyakiti hati tetangga," terang Budiono, dari salah satu warga desa di Ngawi, Selasa, (27/10)

Diakuinya, ada beberapa pihak masyarakat desanya terlihat berlomba menjadi tim sukses calon yang bakal bertarung. Bahkan, warna politik yang sangat membedakan adalah di Pilkades ada kesediaan masyarakat untuk  bertamu kepada setiap calon. Sebab di desa masih terjaga tradisi, calon kades membuka rumahnya setiap malam menjelang Pilkades. 

Tambah Budiono, tradisi seperti ini merupakan tradisi turun-temurun yang masih berlangsung sebagai budaya politik pedesaan. Tidak peduli dengan suka atau tidak sukanya kepada calon. Mayoritas masyarakat seperti bebas tidak  terbebani pilihan politiknya terhadap salah satu calon.

"Bagi saya dan sekeluarga nantinya lebih memilih pada kualitas si calon itu sendiri. Mengingat saat ini kedepan program yang berorientasi langsung ke warga masyarakat jumlahnya tidak sedikit seperti yang tercover dalam ADD maupun DD," ulasnya.

Terpisah, Kabul Tunggul Winarno, Kepala DPMD Kabupaten Ngawi saat dihubungi mengatakan, pada Pilkades 23 Desember 2020 mendatang bakal diikuti 22 desa dari 13 kecamatan. Kabul memastikan, pelaksanaannya nanti menyesuaikan protokol kesehatan ditengah situasi pandemi Covid-19. 

"Untuk saat ini penjaringan calon kepala desa yang dibuka pendaftaranya selama 9 hari kerja dan ditutup pada 3 November nanti," singkat Kabul.