Walhi Soroti Bencana NTT Bukan Murni Sebagai Bencana Alam

Banjir bandang di Nusa Tenggara Timur yang terjadi beberapa waktu lalu/Ist
Banjir bandang di Nusa Tenggara Timur yang terjadi beberapa waktu lalu/Ist

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menyoroti bencana alam yang terjadi di sejumlah wilayah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai potret mitigasi yang buruk dan dampak dari bencana ekologis di kawasan tersebut. 


“Kami menggunakan istilah bencana ekologis karena bencana di NTT tu tidak murni bencana alam atau yang sifatnya alamiah, tapi ada urusan dengan mitigasi yang buruk,” ucap Direktur Eksekutif Walhi NTT, Umbu Wulang Tanaamahu dalam seminar virtual Public Virtue Research Institute (PVRI), Minggu (18/4).

Meski BMKG menyampaikan bahwa bencana banjir bandang yang terjadi di NTT merupakan akibat siklon seroja yang terpusat di laut, ia berpandangan ada dampak dari daya dukung dan daya tampung lingkungan yang kian memburuk. 

"Ini kenapa ruasan dampaknya besar dan memakan jumlah korban? Pertama tentu saja karena siklon seroja, yang kedua mitigasi yang buruk, dan yang ketiga daya dukung dan daya tampung lingkungan yang berkurang,” katanya.

Dia menjelaskan, mitigasi yang buruk tersebut telah terdeteksi pada empat tahun terakhir di NTT sering dilanda sejumlah bencana seperti banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, kebakaran hutan dan juga erupsi gunung berapi.

Namun fakta tersebut tak disikapi pemerintah daerah yang kurang tanggap dengan adanya mitigasi bencana di kawasan NTT. Sehingga, kata dia, di saat terjadi peristiwa bencana memakan korban yang cukup banyak.

"Artinya kami melihat bahwa pemerintah daerah memang tidak tanggap untuk melakukan mitigasi dalam proses peringatan yang diberikan BMKG," tandasnya sebagaimana dimuat Kantor Berita Politik RMOL.