Nang Ning Nung Neng Gung

Jaya Suprana/ net
Jaya Suprana/ net

ADALAH sahabat merangkap mahaguru geopolitik dan kebudayaan Jawa, Edhie Haryadi yang memberikan anugerah pencerahan tentang warisan kearifan leluhur Jawa dengan ekspresi onomatopeais suara alat musik gamelan Jawa yang dipaham-lakoni sampai masa kini. 

Nang

Nang artinya wenang atau tenang. Di sini seseorang berusaha untuk sadar diri dengan rutin melakukan tirakat, semedhi, maladi hening, atau mesu raga, jiwa dan akal budi. Dalam tahapan ini, ia berkonsentrasi untuk membangkitkan kesadaran batin dan mematikan kesadaran jasadnya sebagai upaya dalam menangkap dan menyelaraskan diri dengan frekuensi “gelombang” Tuhan.

Ning

Ning artinya wening atau hening. Di sini seseorang berusaha mengheningkan (meniadakan) daya cipta (akal budi) agar menyambung dengan daya rahsa sejati (suksma sejati, jiwa) yang menjadi sumber cahaya yang suci.

Tersambungnya antara cipta dengan rahsa akan membangun keadaan yang wening. Artinya, dalam keadaan “mati raga” seseorang sedang menciptakan keadaan batin (hawa/jiwa/nafs) yang hening dan khusyuk, bagaikan di alam Sonya Ruri atau Awang-uwung namun jiwa tetap terjaga dalam kesadaran batiniah. Dampaknya ia pun dapat menangkap sinyal gaib dari Sang Suksma Sejati (Tuhan) sebagai bekal jalan hidupnya.

Nung

Nung artinya kesinungan. Disini bagi siapapun yang sudah melakukan Nang lalu berhasil menciptakan Ning, maka akan kesinungan (terpilih dan pinilih) untuk mendapatkan anugerah agung dari Tuhan Yang Maha Suci.

Dalam Nung yang sejati, akan datang cahaya Yang Maha Suci melalui rahsa yang ditangkap oleh roh atau suksma sejati seseorang lalu diteruskan kepada jiwa untuk diolah oleh jasad menjadi manifestasi perilaku utama (laku utomo). Dampaknya seseorang akan berperilaku konstruktif (rapi, bersih, santun, cerdas, dll) dan hidupnya selalu bermanfaat untuk orang banyak.

Neng

Neng artinya heneng. Secara bahasa heneng itu berarti ketenangan, tapi disini tidak sama dengan maksud dari nang atau wenang atau tenang pada point pertama. Heneng di sini juga berarti puncak dari tawakkal (berserah diri), kemerdekaan dan kebebasan diri seseorang.

Jika wenang atau tenang itu berarti awal mula dan prosesnya, maka heneng disini adalah tujuan dan hasilnya. Karena itulah ia pun berada pada tahapan setelah nang, ning dan nung bisa dilalui oleh seseorang. Dan bisa dikatakan pula bahwa orang yang sudah sampai di titik ini adalah mereka yang disebutkan di dalam Al-Qur`an surat Al-Fajr (89) ayat 27 dengan sebutan nafsul muthmainnah (jiwa yang tenang).

Untuk itulah, bagi orang yang terpilih dan pinilih (kesinungan) �"sudah melalui tahapan Nung�" akan selalu terjaga amal perbuatannya. Sehingga amal perbuatan baiknya pun tak terhitung dan akan menjadi benteng bagi dirinya sendiri bahkan orang lain.

Ini merupakan buah kemenangan dalam laku prihatin. Satu kemenangan besar yang berupa karunia dan kenikmatan dalam segala bentuknya serta punya harapan untuk bisa meraih kehidupan yang sejati, di dunia dan akhirat nanti.

Gung

Gung artinya agung atau keagungan atau kemuliaan. Ini adalah puncak dari perjalanan, karena pribadi yang telah meng-heneng-kan dirinya adalah sosok pemenang yang agung. Itu terjadi setelah ia bisa melepaskan segala ego dan ikatan materi duniawi melalui empat tahapan sebelumnya (nang, ning, nung, neng).

Karena itulah, ia bisa hidup mulia dengan memberikan manfaat untuk seluruh makhluk dan alam semesta (rahmatan lil ‘alamiin).

Dengan begitu ia juga bisa meraih kehidupan yang sejati, selalu kecukupan, tenteram lahir batin, dan tetap menemukan keberuntungan dalam hidupnya (meraih ngelmu bejo). Dan pada tahapan inilah seseorang baru akan menemukan jawaban yang benar tentang siapakah dirinya dan siapa pula Tuhannya yang sejati.

Murwakala

Di dalam kisah Wayang Purwa Batara Guru sempat mewariskan kesaktian suara alat musik gamelan kepada satu di antara sekian banyak putranya, Batara Kala yang bersosok raksasa yang setiap kali menelan rembulan menyebabkan peristiwa gerhana rembulan.

Di dalam pedalangan dikenal lakon Murwakala berkisah Batara Kala selalu ingin memangsa Pandawa namun selalu gagal akibat Pandawa dilindungi titisan Dewa Wisnu yaitu Sri Kresna. Pada hakikatnya sukma tradisi ruwatan berakar pada lakon Murwakala demi berupaya melindungi manusia terutama anak-anak dari angkara murka Batara Kala sebagai personikasi petaka keburukan di marcapada ini. rmol news logo article

Penulis merupakan pendiri Museum Rekor Indonesia