Serap Anggaran Miliaran, Dinding Bangunan Puskesmas di Malang Sudah Retak Hingga Atap Ambrol

 Kondisi Puskesmas Ngantang Kabupaten Malang Atapnya Sebagian Besar Ambrol/RMOLJatim
Kondisi Puskesmas Ngantang Kabupaten Malang Atapnya Sebagian Besar Ambrol/RMOLJatim

Pembangunan pusat kesehatan masyarakat (Puskemas) Ngantang, yang terletak di Dusun Sumbergondo, Desa Waturejo, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, menyerap anggaran miliaran rupiah. Namun kondisinya sekarang dinding sudah retak dan atap banyak yang ambrol.


Mengacu di laman lpse.malangkab.go.id ada 2 jenis pekerjaan kontruksi yang dilakukan oleh satuan kerja Dinas Kesehatan Pemerintah Kabupaten Malang. Diantaranya adalah pertama pembangunan gedung Puskesmas Ngantang dan Perlengkapan Gedung Kantor di tahun 2017 dengan harga pagu sebesar Rp 2.902.500.000 dan harga kontrak Rp. 2.842.000.000 dimenangkan oleh PT. CPS. Sedangkan yang kedua penambahan ruang rawat inap atau jalan Puskesmas Ngantang di tahun 2018 dengan harga pagu Rp 2.293.774.595 dan harga kontrak dimenangkan oleh PT. AAJ.

Menurut keterangan salah satu petugas Puskesmas Ngantang, bahwa membenarkan ada 2 proyek yang dikerjakan, diantaranya proyek  yang di tahun 2017 di gedung utama. Sedangkan yang di tahun 2018 di Gedung  Rawat Inap.

"Setahu saya, untuk yang gedung ini (utama) dibangunnya 2017, yang situ (Gedung Rawat Inap) dibangun pada tahun 2018," ujarnya beberapa waktu lalu.

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas  Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang, dr. Arbani Mukti, saat dikonfirmasi mengungkapkan, bahwa banyaknya atap yang ambrol tersebut dikarenakan memakai plafon gypsum, yang tidak kuat jika berada di tempat lembab.

"Spek yang digunakan kliru (salah,red). Ternyata bahannya dari Gypsum. Sebenarnya Gypsum lebih bagus, tapi kalau untuk interior. Sedangkan, Gypsum tidak tahan cuaca yang lembab. Jika terjadi kondisinya seperti itu, nantinya kita bakal pertimbangkan efek cuaca dan bahan pelafonnya ke depan. Misalkan, pakai pvc atau asbes," ungkap Arbani, kepada Kantor Berita RMOLJatim, Selasa (14/9)

Sedangkan mengenai dinding yang sudah retak, Arbani akan meninjau ke lokasi untuk memastikan retak itu disebabkan karena struktur yang salah atau tidak.

"Jika retaknya disebab struktur, maka kita harus waspada. Namun, jika retak- retak biasa tidak masalah. Dan tentu akan segera kami benahi. Karena ini juga kan pekerjaan tahun-tahun sebelumnya. Dan ini menjadi evaluasi ke depan," tutur pria berkacamata tersebut.

Disinggung apakah hal ini akibat dari perencanaan yang kurang matang? Arbani enggan berkomentar lebih, perihal tersebut.

"Intinya, ke depan pada saat kita membangun atau melakukan pemeliharaan gedung, harus benar-benar berpegangan terhadap spesifikasi bangunan yang sudah ditetapkan saat perencanaan. Jadi saat perencanaan konsultasi pada ahlinya, dalam hal ini yang independen adalah Dinas Perumahan Kawasan Pemukiman dan Cipta Karya (DPKPCK). Maka konsultan perencanaan perlu membuktikan perencanaanya, sesuai struktur bangunan di tempat tersebut dan bisa berbeda antar titik," pungkasnya.