Di tengah merebaknya pandemi, PT Barata Indonesia (Persero) terus berkomitmen dalam menyelesaikan sejumlah proyek strategis nasional sesuai target kerja yang ditentukan, yang terkini ialah Pembangunan Pabrik Gula. Pembangunan Pabrik Gula nasional merupakan komitmen perseroan dalam mendukung program ketahanan pangan dan swasembada gula.
- Perusahaan China dan Korsel Suntik Dana untuk BUMN Baterai
- Dongkrak UMKM Surabaya, Ini Upaya Tokko Semesta
- Peringati Hakordia 2021, bank bjb Komitmen Berantas Korupsi
"Dengan pengalaman yang telah dimiliki Barata Indonesia selama satu abad di industri gula, perseroan berkeinginan menjadi solution provider bagi proyek–proyek industri agro, khususnya industri gula nasional dalam rangka mengatasi tantangan kelangkaan komoditas gula produksi dalam negeri, kata Direktur Utama Barata Indonesia, Fajar Harry Sampurno, dikutip Kantor Berita RMOLJatim, Kamis (16/7).
Industri gula nasional, lanjutnya, sangat berpeluang menjadi penopang swasembada pangan setelah swasembada beras. Penyelesaian pembangunan Pabrik Gula ini merupakan upaya kami dalam mewujudkannya dan kami berharap hal ini dapat mendorong multiplier effect ekonomi bagi seluruh pihak.
Lebih lanjut, Barata Indonesia juga berkeinginan untuk terus memberikan kontribusi terhadap terciptanya percepatan kemandirian industri gula dalam negeri melalui komitmen penggunaan konten lokal yang tinggi.
Barata Indonesia saat ini juga sedang berusaha menyelesaikan pembangunan Pabrik Gula Bombana Sulawesi Tenggara (kapasitas 12.000 TCD). Di bidang Industri Agro, Barata Indonesia memiliki kompetensi untuk memproduksi berbagai komponen pabrik gula serta pabrik gula lengkap dengan berbagai kapasitas sampai dengan 15.000 TCD.
Selain pabrik gula, Barata Indonesia juga memiliki kapabilitas untuk membangun pabrik garam, pabrik sagu, bioetanol, dan kelapa sawit.
Barata Indonesia berharap kontribusi perseroan dalam berbagai proyek pabrik gula di tanah air ini dapat meningkatkan nilai tambah yang bisa dihasilkan di dalam negeri. Sehingga mempercepat terwujudnya ketahanan pangan dan swasembada gula dan tercipatanya kemandirian dalam industri manufaktur tanah air
Pabrik Gula yang telah menjalani Tahap commissioning adalah PG Asembagus Situbondo (revitalisasi kapasitas 6000 TCD) dan PG Rendeng Kudus (4000 TCD). Selain pabrik gula, Divisi Industri Gula dan Agro juga sedang menyiapkan komponen Pabrik Bioethanol (kapasitas 330000 KL) Gempolkrep, Mojokerto.
ikuti terus update berita rmoljatim di google news
- Vasa Hotel Surabaya Raih ASEAN MICE Venue Standard 2019
- Gubenur Jatim Khofifah Kukuhkan Tim 7 Percepatan Akses Keuangan Daerah
- Pernyataan Anggito Abimanyu Incar Pajak Dari Judol Dikritik Keras