Triangle Diamond, Strategi Sukses Pemkab Banyuwangi Kembangkan Potensi Wisata

  Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas/Net
Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas/Net

Kegiatan Forum Komunikasi yang digelar Kemenko Marves di Banyuwangi disambut antusias oleh Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas. 


Dia juga mengaku punya ikatan khusus dengan Kemenko Marves karena selama ini telah memperhatikan dan membantu memajukan Banyuwangi di bawah koordinasinya.

"Kemenko Marves ini punya perhatian yang khusus dengan Banyuwangi, ini sangat berarti,” kata Azwar dikutip Kantor Berita RMOLJatim, Kamis (11/2).

Menurut Azwar Anas, sejak awal Banyuwangi adalah daerah yang tidak terlalu menarik. Karena jauh dari pusat pertumbuhan kota, tidak punya bandara, hingga memiliki image tidak terlalu bagus di mata daerah lainnya di Indonesia.

Potret inilah yang dimiliki Banyuwangi beberapa tahun sebelumnya, dan kini secara perlahan berubah menjadi lebih baik.

"Di sinilah kami melihat, karena tidak ada opsi mengeluh, opsi adalah bagaimana menyelesaikan masalah maka kebun yang luas, hutan yang luas diapit tiga taman nasional menjadi peluang. Maka kami putuskan triangle diamond menjadi strategi pengembangan wisata. Jadi daerah untuk maju perlu punya rencana strategis untuk pengembangan wisata,” ucapnya.

Menurutnya, ketika mengembangkan pariwisata tidak semua orang setuju, karena pariwisata dianggap pencitraan, dianggap membuang-buang uang. Maka untuk mendorong ini semua pihaknya harus 'menyelam'.

“Sekarang banyak daerah kabupaten membuat pariwisata tetapi tidak terintegrasi, terlalu banyak belajar, tidak langsung menyelam akhirnya perlu waktu lama (berkembang)," tambahnya.

Dikatakan Bupati, Banyuwangi yang kini maju dan berkembang tidak dilakukan secara instan karena banyak hal yang dikerjakan untuk mengubah status daerahnya menjadi lebih baik. 

Selain dengan potensi pariwisata yang besar, aspek budaya juga turut dikembangkan dengan yang dipadukan dengan Inovasi-inovasi.

Karena itu pihaknya banyak menggelar event dan festival yang kini berjumlah 100 event di daerah. Inilah yang menjadi cara Pemkab Banyuwangi untuk melakukan konsolidasi budaya dan konsolidasi alam.

“Bagi Banyuwangi, festival bukan hanya soal pariwisata, tetapi inilah cara kami membendung intervensi budaya dunia yang setiap detik dari handphone kita masing-masing. Makanya Banyuwangi melakukan banyak perbaikan,” demikian Azwar Anas.