Rutan Medaeng Mirip Kandang, Harus Ditata Ulang

Situasi rutan Medaeng
Situasi rutan Medaeng

Jumlah kapasitas untuk Rumah Tahanan (Rutan) Kelas I Surabaya di Kelurahan Medaeng, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, mengalami overload. Dimana kapasitas yang seharusnya hanya menampung 500 orang, tapi justru jumlah narapidana meningkat lebih dari 400 persen.


“Rutan sudah overload, kini sudah dihuni sekitar 2500 tahanan. Dan Rutan sendiri sebenarnya hanya menampung 500 narapidana,” kata Kepala Rutan Kelas 1 Surabaya, Wahyu Hendra Jati, dikutip Kantor Berita RMOLJatim, Selasa (10/8).

Akibat dari rutan yang mengalami overload, kamar yang dihuni narapaidan atau warga binaan pemasyarakatan (WBP) mengalami sesak. Menurut Wahyu, yang miris melihat dari kondisi tutan mengalami overload adalah saat narapidana itu tidur.

"Sebab, dari sisi kemanusiaan tidak layak, yakni saat tidur harus berdesakan. Belum lagi saat ke tempat toilet, para narapidana harus bergantian, bahkan kadang ada yang sampai harus buang air kecil sembarangan," sambungnya.

Dampaknya, menimbulkan bau tak sedap, dan bisa menyebabkan atau menimbulkan penyakit. 

“Kalau tidur itu kadang bergantian, berdesakan, terus buang air kecil sembarangan. Bahkan, pernah saya sendiri saat mengecek di salah satu blok tahanan, terlihat ada yang tidur dengan posisi berdiri. Ini sangatlah tidak manusiawi, harus ada perubahan dan perombakan,” ungkapnya.

Menurut Wahyu, berdasarkan data yang dimiliki, bahwa Rutan Kelas I Surabaya atau Medaeng itu sebelumnya adalah diperuntukkan untuk tahanan anak. Dimana, itu pada tahun 1975, seiring berjalannya waktu, di tahun 1985 diresmikan dan dialihkan fungsi sebagai rutan dewasa.

Di sisi lain, masih kata Wahyu, dari struktur bangunan Rutan Medaeng itu sebenarnya tidak memenuhi syarat untuk ditempati tahanan orang dewasa. 

“Oleh karena itu, saya sebagai Karutan Kelas Satu Surabaya atau Rutan Medaeng mengusulkan supaya ada penataan ulang pada bangunan Rutan Medaeng, dalam bentuk kapasitas dan struktur bangunannya,” ujarnya.

“Sebagai kota metropolitan, sudah seharusnya ada rutan yang layak, khusunya rutan narkoba. Karena 70 persen penghuni lapas adalah tahanan narkoba. Tapi ini tentu harus didukung oleh pemerintah daerah,” ia menambahkan.

Untuk itu, pihaknya berencana akan menemui Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi guna melakukan pembicaraan lebih lanjut telait usulan mengenai pembangunan rutan khusus narkoba di Surabaya.

“Pemkot Surabaya khan banyak punya aset berupa lahan/ tanah kosong. Untuk itu, kita mau jajaki kerjasama. Pemkot menyediakan lahan, Kemenkumhan yang bangun,” pungkasnya.