Membangun Gereja di Indonesia Lebih Mudah daripada Bangun Masjid di AS

Guru Besar Politik Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Profesor Masykuri Abdillah/Ist
Guru Besar Politik Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Profesor Masykuri Abdillah/Ist

Membangun gereja di Indonesia lebih mudah dilakukan. Karena itu, tidak benar karena umat Islam menjadi mayoritas di Indonesia lantas disimpulkan menyebabkan banyaknya pelanggaran kebebasan beragama.


Hal demikian diungkapkan Guru Besar Politik Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Profesor Masykuri Abdillah.

Menurut dia, membangun gereja di Indonesia masih lebih mudah daripada membangun masjid di negara maju seperti Amerika Serikat.

Masykuri Abdillah menyampaikan demikian saat menjadi narasumber dalam Seminar Nasional berjudul “Koreksi Kebebasan Beragama ala Barat” di Aula Sekolah Pascasarjana (SPS) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (29/6).

Masykuri mengatakan, berdasarkan pengamatan dia, ada sejumlah keluhan yang sering didengar antara lain keluhan diskriminasi dari sebagian kelompok agama minoritas Kristen dan Katolik, bahwa mereka kesulitan untuk mendirikan tempat ibadah.

Tetapi, kata penulis buku “Islam Agama Kedamaian”, berdasarkan data yang ada, Indonesia memiliki jumlah gereja terbanyak ketiga di dunia setelah Amerika Serikat dan Brazil.

Dia mengatakan, jika ada laporan tentang sulitnya membangun gereja atau tempat ibadah di Indonesia, perlu didalami. Termasuk juga mencari data pembanding.

“Jadi coba barat melihat datanya jangan hanya satu pintu dari laporan LSM saja, tetapi harus dari laporan-laporan pembanding yang lainnya,” ujar Masykuri.

Lebih lanjut, Masykuri menegaskan, dengan banyaknya gereja di Indonesia, membantah analogi seolah-olah masyarakat Muslim atau negara-negara yang mayoritas Muslim sebagai pelaku anti kebebasan beragama.

“Jadi hal ini tidak benar,” tandasnya dikutip Kantor Berita Politik RMOL.

Seminar yang diselenggarakan oleh SPS UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, menghadirkan dua narasumber lainnya. Yakni Dina Yulianti Sulaeman dari Universitas Padjajaran Bandung dan Muhammad Azis dari Universitas Ahmad Dahlan Jogyakarta.