Din Syamsuddin: Wasatiyah Islam Bisa Jadi Solusi Krisis Multi-Dimensi Hari Ini

Din Syamsuddin/net
Din Syamsuddin/net

Di tengah krisis multi-dimensional yang dihadapi dunia saat ini, Wasatiyat Islam atau jalan tengah Islam menjadi solusi bagi peradaban manusia.


Demikian yang dikatakan oleh Ketua Centre for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC), Din Syamsuddin ketika berbicara dalam International Symposium yang digelar oleh Fakultas Agama Islam Universitas Ahmad Dahlan di Yogyakarta pada Sabtu (3/12).

"Kerusakan peradaban, baik pada tingkat global maupun nasional banyak negara, merupakan fakta yang sangat memprihatinkan. Dunia menghadapi krisis multi-dimensional, berupa krisis-krisis pangan, energi, dan lingkungan hidup, serta berbagai bentuk ketidakadilan, tindak kekerasan, dan sikap fobia antar kelompok," ujarnya.

Pada forum tersebut, Din tampil sebagai pembicara utama, bersama Prof. Zaid Ahmad dari Universiti Putra Malaysia, Prof. Parjiman dari Universitas Muhammadiyah Surakarta, dan Chairman of International Institute of Islamic Thought (IIIT) Indonesia Dr. Habib Chirzin.

Meski pandemi Covid-19 sudah reda dan dunia memulai kondisi normal baru, namun umat manusia tetap dihadapkan pada momok seperti perubahan iklim, pemanasan global, hingga resesi ekonomi global yang berdampak pada bidang-bidang kehidupan lain.

Berbagai krisis yang terjadi saat ini, lanjut Din, turut disebabkan oleh sistem dunia yang berwatak sekuler-liberal yang menampilkan ekstremitas.

"Label ekstremisme sering hanya dikaitkan dengan agama dan dilekatkan pada kelompok agama (tertentu/Islam), padahal ideologi dunia dalam bidang ekonomi, politik, dan budaya berwatak ekstrem yang akhirnya menciptakan kerusakan akut," jelas Chairman of Global Fulcrum of Wasatiyat Islam itu.

Melihat situasi ini, ia menilai Wasatiyat Islam atau jalan tengah Islam dapat menjadi solusi, di mana bidang ekonomi, politik, dan budaya harus ditarik ke titik tengah.

Namun, ia menekankan, jalan tengah yang dimaksud bukan berarti jalan moderasi yang mengandung konotasi kompromistik dan rekonsiliasistik antara pihak superior dan inferior.