Layanan financial technology (fintech) pinjaman online yang disinyalir telah menelan korban. Bunga dan denda yang tinggi hingga penagihan yang disertakan ancaman membuat resah masyarakat.
- Masih 92,98 Persen Caleg Terpilih yang Serahkan LHKPN ke KPK
- Polisi Tangkap Pelaku Investasi Bodong Jaringan Malaysia, Korban Merugi Rp 18 Miliar
- Polisi Bongkar Sindikat Penipuan Berkedok Cinta, Sebulan Raup Untung Rp50 Miliar
"Jadi saya menghimbau kepada masyarakat jangan tergoda dengan pinjaman online ini. Karena kehadiranya sangat meresahkan masyarakat," jelas AKBP MB. Pranatal Hutajulu, Jum'at, (13/9).
Ia membenarkan, sudah banyak kasus orang terkena gangguan jiwa dan bunuh diri lantaran akibat pinjaman online. Selain bunga tinggi kehadiran pinjaman online kerap meneror keluarga peminjam maupun rekanya jika meleset jatuh tempo dari penyetoran.
"Maka saya himbau kepada masyarakat Ngawi yang merasa jadi korban pinjaman online silahkan lapor," tegasnya.
Jelas Pranatal, apabila ingin meminjam secara online, maka masyarakat agar melihat daftar aplikasi fintech peer to peer lending yang telah terdaftar di OJK pada website www.ojk.go.id.
Perlu diketahui juga bahwa fintech peer to peer lending ilegal bukan merupakan ranah kewenangan OJK karena tidak ada tanda terdaftar dan izin dari OJK sedangkan yang menjadi ranah kewenangan OJK adalah Fintech Peer-To-Peer Lending yang terdaftar dan berizin di OJK.
Jika terdapat pelanggaran yang dilakukan oleh fintech peer to peer lending yang terdaftar dan berizin di OJK maka OJK dapat melakukan penindakan terhadap fintech tersebut.[bdp]
ikuti terus update berita rmoljatim di google news
- PN Surabaya Tolak Eksepsi Dua Direksi PT HAI
- Dua Warga Pulau Bawean Usai Memperkosa Antar Pulang Korbannya Saat Pingsan
- Penyidik KPK Diadukan Ke Dewas, Tak Kunjung Periksa Kader PDIP Kasus Bansos