Rasminto, Anak Petani Raih Doktor Kependudukan dan Lingkungan Hidup UNJ

Rasminto/Ist
Rasminto/Ist

Pasal 31 UUD 1945 mengamanatkan bahwa pendidikan merupakan hak bagi setiap warga negara tetapi pendidikan dasar merupakan kewajiban yang harus diikuti oleh setiap warga negara dan pemerintah wajib membiayai kegiatan tersebut.


Namun sayangnya, tak sedikit anak bangsa yang tak mampu menuntaskan cita-citanya untuk menyelesaikan pendidikan formalnya.

Malahan ada yang tak sempat mengenyam pendidikan formal sama sekali sejak kecil hingga dewasa. Faktornya beragam. Ada yang memang tidak minat untuk sekolah atau orangtuanya terhimpit kemiskinan.

Tak mau terjerembab dalam jurang kebodohan yang kerap kali berujung kemiskinan, karena tak mampu mengeyam pendidikan, Rasminto seorang anak buruh tani asal Kampung Pulosirih, Desa Sukajadi, Kecamatan Sukakarya Kabupaten Bekasi pun bertekad untuk mengejar cita-cita menyelesaikan pendidikannya. 

Putra sulung Nadah dan Sulastri ini pun kini berhasil menambah daftar panjang inspirasi anak kurang mampu yang berhasil sekolah tinggi sampai meraih gelar doktor di bidang kependudukan dan lingkungan hidup.

Gagal Dapat Beasiswa

Meskipun orang tuanya hanya buruh tani yang menggarap sawah milik orang lain, pada 2005 Rasminto memberanikan diri untuk melanjutkan pendidikan dengan masuk ke Program Studi Pendidikan Geografi di Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Jakarta (UNJ). 

Di tengah keterbatasan biaya dari orang tua, Rasminto kemudian bekerja untuk menopang kebutuhan hidup dan biaya kuliahnya.

"Saya juga aktif berorganisasi untuk mengasah kepedulian terhadap kondisi sosial masyarakat," kata Rasminto, dilansir dari Kantor Berita RMOLJakarta, Sabtu (21/11).

Pekerjaan yang dilakoni Rasminto mulai dari menjadi tutor, staf marketing  di salah satu lembaga bimbingan belajar di Jakarta, mengajar di SMA 68 dan SMA Budi Agung Jakarta.

Rasminto juga aktif menjadi asisten peneliti di Program Studi Geografi UNJ. 

Akhirnya Rasminto pun berhasil lulus tahun 2009 berkat bantuan nenek yang juga sangat mendukung semangatnya.

Tak puas, tahun 2011, Rasminto memberanikan diri ikut seleksi masuk program Pascasarjana di Program Studi Kependudukan dan Lingkungan Hidup (PKLH) Pascasarjana UNJ. 

Di tahun tersebut, Rasminto juga berkesempatan mendapatkan program beasiswa. Hanya saja kesempatan itu tak diperolehnya karena terkendala syarat administrasi.

Tak patah arang, Rasminto yang sudah biasa bekerja sejak masih muda tetap bertekad melanjutkan kuliahnya meski tanpa program beasiswa.

Lagi-lagi pilihannya bekerja. Pekerjaan yang dilakoni antara lain menjadi pengajar di STKIP Pancasakti Bekasi, hingga menjadi konsultan pendidikan di NGO Save The Children (USA).

Berkat upaya kerasnya, Rasminto berhasil meraih gelar Magister Pendidikan pada  2013 dengan meraih predikat cumlaude dengan indeks prestasi 3.77.

Setelah berhasil meraih gelar magister, pada 2015 Rasminto melanjutkan kuliahnya di S3 PKLH Pascasarjana UNJ.

"Lulus S2, saya justru merasa dahaga belajar. Karena itu, saya pun berupaya melanjutkan studi di program studi yang sama. Niatnya agar pendidikan saya mendekati paripurna dan bisa membanggakan keluarga," kata Rasminto.

Program doktor ini dilalui Rasminto dengan cukup berat. Ia yang sempat pesimis dengan beasiswa di fase ini kembali menjalani kuliahnya dengan biaya mandiri. 

"Pendidikan saya tempuh sambil mengajar sebagai dosen di FKIP Unisma Bekasi dan menjadi konsultan di beberapa lembaga swasta maupun pemerintahan," kata Rasminto.

Tantangan dalam menyelesaikan S3 juga tak kalah banyaknya. Menikah dan mengurus keluarga, semakin banyaknya pekerjaan serta berbagai kewajiban di organisasi sosial adalah tantangan tersendiri.

Akhirnya Rasminto yang berusia 34 tahun ini berhasil mempertahankan disertasinya di hadapan para penguji dalam sidang terbuka pada 21 Agustus 2020. 

Hanya saja, karena masih dalam kondisi pandemi Covid-19, sidang terbukanya pun harus digelar secara virtual.

"Semua virtual, tapi tidak masalah yang terpenting esensi sidang terbukanya dapat dan tetap bisa disaksikan oleh keluarga, teman dan kolega," kata Rasminto.

Hari ini, wisudanya pun harus dijalani dengan virtual. Ia membuktikan bahwa pandemi dan keterbatasan apapun bisa dilewarlti selama niat dan tekad semangat untuk belajar itu kuat.