Banyaknya pembangunan infrastruktur di era pemerintahan Joko Widodo nyatanya tak menggenjot industri baja di Tanah Air. Hal ini terlihat pada merosotnya penjualan Krakatau Steel.
- Demokrat Sumsel Yakin Koalisi Pendukung Anies Berlayar Sampai Tujuan
- Puluhan Bacaleg Dari Jember Belum Memenuhi Syarat Menjadi Calon Legislator
- Sri Mulyani Merasa Kikuk PPN Sembako Jadi Gaduh Karena RUU KUP Bocor
"Faktanya penjualan Krakatau Steel merosot, merugi. Harusnya naik dong dengan proyek infrastruktur, malah sebaliknya," kata Rizal Ramli saat wawancara di salah satu stasiun TV swasta, Senin (8/7).
Menurutnya, ada dua hal yang menyebabkan rendahnya penjualan baja dalam negeri ini. Pertama, adalah serangan produk dari luar negeri yang memiliki harga lebih murah.
"Markat share-nya diambil oleh produk impor, produk China. Kemudian yang kedua memang sudah akut," tegasnya.
Bagi RR, sapaan Rizal, bangsa Indonesai harus memiliki pemimpin yang besar pula agar mampu memaksimalkan potensi ekonomi dalam negeri.
Saat disinggung soal kemugnkinan adanya perusahaan BUMN lain yang bernasib sama dengan Krakatau Steel, mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritimian ini enggan bicara banyak.
"Jangan diumumin, nanti ribut lagi. (tapi) Ada yang berpotensi bermasalah," tandasnya.[bdp]
ikuti terus update berita rmoljatim di google news
- Panglima TNI akan Pertimbangkan Penambahan Pasukan Selamatkan Pilot Susi Air
- Cak Imin Anggap Usulan Penundaan Pemilu Demi Menolong Maruf Amin di Akhirat
- Pemerintah Diusulkan Lakukan Reformasi Perpajakan Berbasis Zero Korupsi